Cerita Kesederhanaan Nasirun, Seniman Miliuner yang Tak Punya HP

Nasirun dikenal memiliki gaya hidup sederhana. Ia bahkan memiliki pandangan tersendiri . mengenai kesederhanaan yang dijalaninya.

Maestro seni rupa Indonesia, Nasirun, meninggal dunia pada Sabtu (1/8/2026). (Dok. Tangkapan Layar YouTube Brilio)

Jadi intinya…

  • Maestro seni rupa Nasirun meninggal dunia pada 1 Agustus 2026 di Yogyakarta, usia 60 tahun.
  • Nasirun dikenal bersahaja, menolak ambisi popularitas dan kekayaan, meski karyanya bernilai tinggi.
  • Ia menghasilkan 1.448 karya, dipamerkan global, dan dijuluki “Seniman Gorengan” karena cepat laku.

Jakarta – Maestro seni rupa Indonesia, Nasirun, meninggal dunia pada Sabtu (1/8/2026) sekitar pukul 05.58 WIB di Rumah Sakit AMC Muhammadiyah Yogyakarta. Seniman kelahiran Cilacap, Jawa Tengah, itu mengembuskan napas terakhir dalam usia 60 tahun.

Di balik kesuksesannya sebagai seniman dengan nilai karya tinggi, Nasirun dikenal memiliki gaya hidup sederhana. Ia bahkan memiliki pandangan tersendiri mengenai kesederhanaan yang dijalaninya.

“Bersahajanya saya tolak, miliunernya juga saya tolak,” ujar Nasirun dikutip dari video Brilio, Sabtu (8/1/2026).Nasirun dikenal sebagai sosok yang bersahaja dan nyentrik. Namanya telah dikenal di kancah seni rupa hingga lima benua.

Sepanjang kariernya, Nasirun mengikuti berbagai pameran di dalam maupun luar negeri, seperti di Singapura, Jepang, dan Prancis.

Nasirun juga tercatat mengoleksi sekaligus menghasilkan sebanyak 1.448 karya. Karya-karyanya dipajang di rumahnya dan dapat dinikmati oleh pengunjung secara gratis.

Meski memiliki aset bernilai miliaran rupiah dan kendaraan mewah, Nasirun tidak memiliki telepon seluler (handphone) dan tidak bisa mengemudi.

Dalam berkesenian, Nasirun mengaku tidak pernah memiliki ambisi untuk menjadi terkenal maupun kaya raya.

“Saya dari berkesenian tak pernah ambisi untuk menjadi populer, ambisi menjadi kaya raya, apalagi ambisi untuk mengalahkan orang lain,” ujarnya.

Seniman Gorengan

asirun juga mengungkap kisah di balik julukan “Seniman Gorengan” yang melekat padanya. Julukan tersebut muncul setelah karya-karyanya laris terjual dalam waktu singkat pada sebuah pameran tahun 1997.

“Pada tahun 1997, saya juga belum paham apa itu booming. Kejadiannya saat pameran saya di tempat almarhum Sandi Sulaiman. Pameran dibuka . pukul 7 pagi dan pada pukul 3 sore semua karya . sudah terjual habis . Akhirnya saya mendapat julukan, alhamdulillah, Seniman Gorengan, kira-kira begitu,” ujar Nasirun.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Finansial

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *